BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tuhan
menciptakan alam yang penuh dengan kekayaan. Apa yang kita butuhkan pasti
tersedia di alam ini. Dari mulai kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan
pangan yang sampai saat ini masih sangat dibutuhkan salah satunya yaitu kacang
kedelai. Kacang kedelai sudah sejak lama digunakan sebagai bahan
dasar dari berbagai olahan makanan yang lezat. Salah satu olahan makanan dari kacang
kedelai yang paling terkenal dan terlezat adalah tempe. Tempe adalah salah satu
hasil fermentasi dari kacang kedelai.
Tempe
adalah makanan khas masyarakat Indonesia. Kata
"tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno . Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Tempe merupakan makanan yang sangat populer dikalangan masyarakat
Indonesia, tempe memiliki giziyangtinggi dan biasanya dijadikan lauk - pauk
dalam keseharian mayarakat
dan juga sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia)
sehingga biasa disebut sebagai makanan semua umur.
Tetapi masih banyak masyarakat yang tidak mau mengkonsumsi tempe karena beranggapan tempe adalah makanan bagi golongan masyarakat menengah kebawah. Padahal selain harganya lebih murah dibanding lauk -
pauk lainnya, tempe juga memiliki kelebihan lain, yaitu cakupan gizi pada tempe
yang tinggi, tetapi sayangnya banyak orang yang tidak
tahu kandungan apa saja yang terdapat pada tempe dan juga apa manfaatnya bagi
tubuh manusia, sehingga masyarakat menengah atas enggan untuk memakan tempe.
Berdasarkan uraian tersebut, kami tertarik untuk
melakukan penelitian bahwa ada zat apa saja yang terkandung dalam makanan
tradisional Indonesia ini. Dan dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat
memberi informasi kepada masyarakat bahwa banyak sekali dampak positif dari zat-zat yang dihasilkan dari fermentasi kacang kedelai menjadi tempe. Maka kelompok
kami tertarik melakukan penelitian dengan judul “Dampak Fermentasi
Tempe terhadap Nilai Gizi
yang terkandung didalamnya.”
1.2 Perumusan Masalah
a. Bagaimanakah proses
pembuatan tempe?
b. Apakah
ada kendala pada saat proses pembuatannya?
c. Zat
apa sajakah yang terkandung pada tempe?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
a.
Mengetahui cara
pembuatan tempe dan bahan-bahan yang diperlukan.
b.
Permasalahan atau
kesulitan yang dialami selama proses pembuatan tempe.
c.
Mengetahui kandungan
zat apa saja yang ada didalam tempe tersebut dan apa saja manfaat dari zat
tersebut.
d.
Dapat menemukan inovasi
terbaru dari bahan dasar tempe.
1.4 Manfaat Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah dan tujuan penelitian maka diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat bahwa banyak zat dan vitamin yang terkandung dari makanan hasil fermentasi kedelai ini dan juga manfaatnya bagi kesehatan tubuh.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1 Pengertian Tempe
Indonesia, siapa yang tidak
mengenal negara yang kaya akan makanan khas-nya ini. Indonesia dari zaman
dahulu memang terkenal dengan aneka makanan yang menggugah selera. Makanan khas
yang sedari dulu tidak pernah hilang yaitu Tempe.
Tempe adalah makanan khas masyarakat
Indonesia. Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang
disebut tumpi. Tempe
segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Tempe
merupakan makanan dari hasil fermentasi antara kedelai dengan jamur Rhizopus Oligosporus . Selain harga tempe yang murah, sepotong tempe mengandung berbagai unsure bermanfaat,
seperti karbohidrat, lemak, protein,
serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten serta memiliki kandungan gizi yang
tinggi seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat.
Tempe merupakan
makanan yang sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia, karena memiliki gizi yang tinggi dan biasanya
dijadikan lauk - pauk dalam keseharian mayarakat dan juga sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia)
sehingga biasa disebut sebagai makanan semua umur.
2.2 Khasiat dan Kandungan Tempe
AsamLemak
Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidak jenuhan terhadap lemak.
Dengan demikian,
asam lemak tidak jenuh majemuk
(polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.
Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol
serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif
sterol di dalam tubuh.
Vitamin
Dua kelompok
vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air
(vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin
A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber
vitamin B yang sangat potensial. Jenis
vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain
vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asampantotenat, asamnikotinat (niasin),
vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).
Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati
(sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung
vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber
vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati..
Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe,
tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiellapneumoniae dan Citrobacterfreundii.
Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara
1,5sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering. Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan
vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya
vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan
vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu
hariannya.
Mineral
Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang
cukup. Jumlah
mineral besi, tembaga, danzink berturut-turut adalah 9,39;
2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.
Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang
akan menguraikan asam fitat (yang
mengikat beberapa
mineral) menjadi fosfor dan
inositol. Dengan terurainya asam fitat,
mineral-mineral tertentu (seperti besi,
kalsium, magnesium, danzink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.
Antioksidan
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon.
Seperti halnya
vitamin C, E, dankarotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan
yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.
Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitudaidzein, glisitein, dangenistein. Pada tempe, di
samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II
(6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan
paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya
proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri
Micrococcusluteus dan Coreyne
bacterium.
Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang
dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan
yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan
yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya
proses penuaan dini.
Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, AmerikaSerikat,
menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen
yang terdapat pada tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.
a.
Protein yang terdapat dalam tempe
sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare.
b.
Mengandung zat besi, flafoid yang
bersifat antioksidan sehingga menurunkan tekanan darah.
c.
Mengandung superoksida desmutase
yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung.
d.
Penanggulangan anemia. Anemia
ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi
(Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana
unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe.
e.
Anti infeksi. Hasil survey
menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh
karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat
meminimalkan kejadian infeksi.
f.
Daya hipokolesterol. Kandungan
asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol.
g.
Memiliki sifat anti oksidan,
menolak kanker.
h.
Mencegah masalah gizi ganda
(akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang
menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif(aterosklerosis, jantung koroner,
diabetes melitus, kanker).
i.
Kandungan kalsiumnya yang tinggi,
tempe dapat mencegah osteoporosis.
j.
Mencegah timbulnya hipertensi.
k.
k.Menghambat proses penuaan.
BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
Bab
ini menggambarkan pengumpulan data penelitian yang
dilakukan oleh peneliti. Hal-hal yang dibahas dalam bab ini meliputi persiapan pengumpuan
data, prosedur pengolahan data,
pelaksanaan pengumpulan data
dan data penelitian.
3.1
Waktu dan Tempat Penelitian
3.1.1
Waktu Penelitian
Aktivitas yang dilakukan penulis secara keseluruhan kurang lebih tiga bulan. Mulai dari persiapan, penyusunan, dan konsultasi kepada pembimbing. Sejak bulan Januari 2013 sampai dengan bulan Maret 2013. Sedangkan penelitian dilakukan pada bulan Maret
2012.
3.2
Metode Penelitian
Metode yang
penulis lakukan dalam penelitian ini adalah dengan cara penelitian bukan lapangan
dalam penelitian bukan lapangan penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan atau yang sering disebut studi pustaka.Dengan maksud supaya
data-data yang diperoleh diperkuat oleh bukti tertulis. Sehingga kredibel atau dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan analisis penelitian karya tulis ilmiah ini.
3.3 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan
data yang digunakan dapat mendukung dan menghasilkan data penelitian secara kualitatif. Untuk menunjang penelitian tersebut,
penulis menggunakan teknik sebagai berikut
3.3.1
Observasi
Observasi adalah metode
yang dilakukan untuk menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu maupun kelompok secara langsung dalam menghadapi suatu permasalahan. Bahkan menyelesaikan permasalahan tersebut.
PROSES
PEMBUATAN TEMPE
A.
Persiapan
alat dan bahan
Beberapa alat yang dibutuhkan dalam pembuatan tempe adalah sebagai berikut:
kompor, panic, tampah, keranjang, ember, baskom, daun pisang atau plastik. Dan
bahan yang digunakan yaitu: kedelai, ragi tempe, dan air.
B. Cara membuat
tempe
a. Perebusan
dan perendaman
Rebus kedelai hingga mendidih.
Jumlah air yang digunakan untuk merebus jangan terlalu banyak cukup 2-2,5 liter
air untuk 1 kg kedelai. Setelah mendidih, angkat kedelai dan rendam dalam air
bersih, maksimum selama dua hari atau hingga air menjadi berlendir. Umumnya,
perendaman dilakukan selama satu hari. Buang air rendaman dan cuci kedelai
hingga bersih dan lendirnya hilang.
b. Pembelahan
biji dan pembuangan kulit pembelahan biji biasa dilakukan
dengan cara sederhana. Masukkan biji kedelai ke dalam karung goni, lalu
injak-injak hingga biji kedelai membelah. Rendam biji didalam air sambil
diremes-remas sehingga kulitnya terlepas dan mengambang di permukaan air. Buang
kulit biji tersebut.
Selain itu, proses pembelahan biji
kedelai dapat dilakukan dengan mesin pembelah biji atau penggiling tipe cakram.
Pada perusahaan pembuatan tempe sekala besar, mesin yang digunakan sudah dapat
membelah biji sekaligus memisahkan kulit biji sehingga lebih praktis dan
efisien.
c. Pencucian
dan perebusan biji tanpa kulit
cuci biji yang telah terlepas dari
kulitnya hingga bersih dan lendirnya hilang. Pencucian dilakukan di bawah air
yang mengalir. Setelah dicuci, rebus kembali hingga lunak atau selama 20-30
menit.
d. Pemberian
ragi tempe (inokulasi)
Taburkan ragi tempe yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Untuk 10 kg kedelai diperlukan ragi tempe sekitar 200
gram. Setiap jenis ragi yang dijual di pasaran memiliki kualitas yang
berbeda-beda sehingga jumlah ragi yang digunakan sangat tergantung pada jenis
raginya.
e. Pembungkusan
Plastic yang akan digunakan untuk
membunggkus sebaiknya ditusuk-tusuk terlebih dahulu menggunakan jarum sehingga
terdapat lubang untuk sirkulasi udara. Bungkus biji kedelai yang telah diberi
ragi (bakal tempe) dengan plastic atau daun pisang. Masukkan biji kedelai ke
dalam plastic hingga cukup penuh, lalu tutup ujung plastiknya dan pipihkan
isinya hingga ketebalan 1,5-2 cm. masing-masing pengrajin biasanya memiliki
cara membungkus yang berbeda-beda dengan berbagai bentuk dan ukuran.
f . Fermentasi
Fermentasi
dilakukan dengan meletakkan bakal tempe di rak kayu atau bamboo. Proses
fermentasi dilakukan sekitar 1,5-2 hari atau hingga tempe siap olah. Namun,
pengrajin tempe hanya memfermentasikan selama satu hari sehingga tempe yang
dihasilkan masih setengah jadi (tempe mondol). Pasalnya, konsumen atau pembeli
masih dapat menyimpan hingga keesokan harinya.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Cara Membuat Tempe
A. Persiapan
alat dan bahan
Beberapa alat yang dibutuhkan dalam pembuatan tempe adalah sebagai berikut:
kompor, panic, tampah, keranjang, ember, baskom, daun pisang atau plastik. Dan
bahan yang digunakan yaitu: kedelai, ragi tempe, dan air.
B. Cara
membuat tempe
a. Perebusan
dan perendaman
Rebus kedelai hingga mendidih.
Jumlah air yang digunakan untuk merebus jangan terlalu banyak cukup 2-2,5 liter
air untuk 1 kg kedelai. Setelah mendidih, angkat kedelai dan rendam dalam air
bersih, maksimum selama dua hari atau hingga air menjadi berlendir. Umumnya,
perendaman dilakukan selama satu hari. Buang air rendaman dan cuci kedelai
hingga bersih dan lendirnya hilang.
b. Pembelahan
biji dan pembuangan kulit
pembelahan biji bias dilakukan
dengan cara sederhana. Masukkan biji kedelai ke dalam karung goni, lalu
injak-injak hingga biji kedelai membelah. Rendam biji didalam air sambil
diremes-remas sehingga kulitnya terlepas dan mengambang di permukaan air. Buang
kulit biji tersebut.
Selain itu, proses pembelahan biji
kedelai dapat dilakukan dengan mesin pembelah biji atau penggiling tipe cakram.
Pada perusahaan pembuatan tempe sekala besar, mesin yang digunakan sudah dapat
membelah biji sekaligus memisahkan kulit biji sehingga lebih praktis dan
efisien.
c. Pencucian dan perebusan biji tanpa kulit
Cuci biji
yang telah terlepas dari kulitnya hingga bersih dan lendirnya hilang. Pencucian
dilakukan di bawah air yang mengalir. Setelah dicuci, rebus kembali hingga
lunak atau selama 20-30 menit.
d. Pemberian ragi tempe (inokulasi)
Taburkan ragi tempe yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Untuk 10 kg kedelai diperlukan ragi tempe sekitar 200
gram. Setiap jenis ragi yang dijual di pasaran memiliki kualitas yang
berbeda-beda sehingga jumlah ragi yang digunakan sangat tergantung pada jenis
raginya.
e. Pembungkusan
Plastic yang akan digunakan untuk
membunggkus sebaiknya ditusuk-tusuk terlebih dahulu menggunakan jarum sehingga
terdapat lubang untuk sirkulasi udara. Bungkus biji kedelai yang telah diberi
ragi (bakal tempe) dengan plastic atau daun pisang. Masukkan biji kedelai ke
dalam plastic hingga cukup penuh, lalu tutup ujung plastiknya dan pipihkan
isinya hingga ketebalan 1,5-2 cm. masing-masing pengrajin biasanya memiliki
cara membungkus yang berbeda-beda dengan berbagai bentuk dan ukuran.
f . Fermentasi
Fermentasi
dilakukan dengan meletakkan bakal tempe di rak kayu atau bambu. Proses
fermentasi dilakukan sekitar 1,5-2 hari atau hingga tempe siap olah.
Namun, pengrajin tempe hanya memfermentasikan
selama satu hari sehingga tempe yang dihasilkan masih setengah jadi (tempe
mondol). Pasalnya, konsumen atau pembeli masih dapat menyimpan hingga keesokan
harinya.
4.2
Kesulitan dalam Proses Pembuatan
Kesulitan
yang kami alami pada saat proses pembutan tempe yaitu : saat proses kedelai
menjadi tempe kita membutuhkan tempat yang lembab dan hangat agar jamur dapat
tumbuh dengan baik. Tapi, apabila tempat yang digunakan kurang lembab maka
tempe yang dihasilkan pun tidak bagus atau rusak karena jamur tidak tumbuh
dengan baik. Dan kesulitan lain yaitu terkadang pengusaha tempe kesulitan
mendapatkan kedelai karena harga jual kedelai yang tidak menentu.
4.3 Kandungan dan Khasiat Tempe
Asam Lemak
Selama proses fermentasi tempe, terdapat tendensi adanya peningkatan derajat ketidakjenuhan terhadap lemak.
Dengan demikian,
asam lemak tidak jenuh majemuk
(polyunsaturated fatty acids, PUFA) meningkat jumlahnya.
Asam lemak tidak jenuh mempunyai efek penurunan terhadap kandungan kolesterol
serum, sehingga dapat menetralkan efek negatif
sterol di dalam tubuh.
Vitamin
Dua kelompok
vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air
(vitamin B kompleks) dan larut lemak
(vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber
vitamin B yang sangat potensial. Jenis
vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain
vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asampantotenat, asamnikotinat (niasin),
vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).
Vitamin B12 umumnya terdapat pada produk-produk hewani dan tidak dijumpai pada makanan nabati
(sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian), namun tempe mengandung
vitamin B12 sehingga tempe menjadi satu-satunya sumber
vitamin yang potensial dari bahan pangan nabati..
Vitamin ini tidak diproduksi oleh kapang tempe,
tetapi oleh bakteri kontaminan seperti Klebsiellapneumoniae dan Citrobacterfreundii.
Kadar vitamin B12 dalam tempe berkisar antara
1,5sampai 6,3 mikrogram per 100 gram tempe kering.
Jumlah ini telah dapat mencukupi kebutuhan
vitamin B12 seseorang per hari. Dengan adanya
vitamin B12 pada tempe, para vegetarian tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan
vitamin B12, sepanjang mereka melibatkan tempe dalam menu
hariannya.
Mineral
Tempe mengandung mineral makro dan mikro dalam jumlah yang
cukup. Jumlah
mineral besi, tembaga, danzink berturut-turut adalah 9,39;
2,87; dan 8,05 mg setiap 100 g tempe.
Kapang tempe dapat menghasilkan enzim fitase yang
akan menguraikan asam fitat (yang
mengikat beberapa
mineral) menjadi fosfor dan
inositol. Dengan terurainya asam fitat,
mineral-mineral tertentu (seperti besi,
kalsium, magnesium, danzink) menjadi lebih tersedia untuk dimanfaatkan tubuh.
Antioksidan
Di dalam tempe juga ditemukan suatu zat antioksidan dalam bentuk isoflavon.
Seperti halnya
vitamin C, E, dan karotenoid, isoflavon juga merupakan antioksidan
yang sangat dibutuhkan tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas.
Dalam kedelai terdapat tiga jenis isoflavon, yaitu daidzein, glisitein, dangenistein. Pada tempe, di
samping ketiga jenis isoflavon tersebut juga terdapat antioksidan faktor II
(6,7,4-trihidroksi isoflavon) yang mempunyai sifat antioksidan
paling kuat dibandingkan dengan isoflavon dalam kedelai.
Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya
proses fermentasi kedelai menjadi tempe oleh bakteri
Micrococcusluteus dan Coreyne
bacterium.
Penuaan (aging) dapat dihambat bila dalam makanan yang
dikonsumsi sehari-hari mengandung antioksidan
yang cukup. Karena tempe merupakan sumber antioksidan
yang baik, konsumsinya dalam jumlah cukup secara teratur dapat mencegah terjadinya
proses penuaan dini.
Penelitian yang dilakukan di Universitas North Carolina, AmerikaSerikat,
menemukan bahwa genestein dan fitoestrogen
yang terdapat pada tempe dapat mencegah kanker prostat dan payudara.
a.
Protein yang terdapat dalam tempe
sangat tinggi, mudah dicerna sehingga baik untuk mengatasi diare.
b.
Mengandung zat besi, flafoid yang
bersifat antioksidan sehingga
menurunkan
tekanan darah.
c.
Mengandung superoksida desmutase
yang dapat mengendalikan radikal bebas, baik bagi penderita jantung.
d.
Penanggulangan anemia. Anemia
ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin karena kurang tersedianya zat besi
(Fe), tembaga (Cu), Seng (Zn), protein, asam folat dan vitamin B12, di mana
unsur-unsur tersebut terkandung dalam tempe.
e.
Anti infeksi. Hasil survey
menunjukkan bahwa tempe mengandung senyawa anti bakteri yang diproduksi oleh
karang tempe (R. Oligosporus) merupakan antibiotika yang bermanfaat meminimalkan
kejadian infeksi.
f.
Daya hipokolesterol. Kandungan
asam lemak jenuh ganda pada tempe bersifat dapat menurunkan kadar kolesterol.
g.
Memiliki sifat anti oksidan,
menolak kanker.
h.
Mencegah masalah gizi ganda
(akibat kekurangan dan kelebihan gizi) beserta berbagai penyakit yang
menyertainya, baik infeksi maupun degeneratif(aterosklerosis, jantung koroner,
diabetes melitus, kanker).
i.
Kandungan kalsiumnya yang tinggi,
tempe dapat mencegah osteoporosis.
j.
Mencegah timbulnya hipertensi.
k.
Menghambat proses penua
BAB V
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang kami lakukan kami akhirnya menyimpulkan bahwa tempe adalah makanan khas masyarakat
Indonesia. Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang
disebut tumpi. Tempe
segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Tempe
merupakan makanan dari hasil fermentasi antara kedelai dengan jamur Rhizopus Oligosporus . Selain harga tempe yang murah dan proses pembuatannya yang tidak terlalu sulit,
sepotong tempe mengandung berbagai unsur bermanfaat,
seperti karbohidrat, lemak, protein,
serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten serta memiliki kandungan gizi yang
tinggi seperti kadar vitamin B2, vitamin B12, niasin, dan asam pantorenat.
Dikarenakan manfaat dan harga jual tempe
yang terjangkau bagi masyarakat sehingga kalangan masyarakat menengah kebawah
maupun atas dapat mengkonsumsinya dengan mudah. Tempe juga sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia)
sehingga biasa disebut sebagai makanan semua umur.
4.2 Saran
Berdasarkan
hasil penelitian yang kami dapatkan, kami memberikan saran kepada pembaca untuk
mengkonsumsi tempe karena banyaknya zat-zat yang terkandung pada tempe dan
manfaatnya yang sangat baik untuk tubuh manusia. Dibandingkan dengan
makanan-makanan siap saji seperti burger, spagetti, bakso dll, tempe sangat
jauh lebih baik. Karena pada makanan siap saji kebanyakan mengandung lemak
jenuh yang sulit dicerna oleh tubuh dan banyak mengandung penyedap rasa yang
tidak baik bagi tubuh manusia. Terakhir yang perlu Anda perhatikan, agar semua
nutrisi tempe dapat bermanfaat dan berkhasiat bagi tubuh, maka masaklah tempe
dengan cara direbus, dibacem, disemur atau sebagai campuran sayur sup. Jika
tempe dimasak dengan digoreng maka akan menghilangkan berbagai kandungan
nutrisi bermanfaat dan berkhasiat diatas.
0 komentar:
Posting Komentar